Rabu, 11 September 2013

Yeah... lovely crowd!!

Banyak sekali alasan bagi saya yang melatar belakangi mengapa saya tetap berusaha untuk menjalankan profesi sebagai musisi. Salah satunya adalah karena ada energi tersendiri yang saya dapatkan ketika berada di atas panggung. Energi seperti apa? Saya pun tak mengerti, tapi entah kenapa saya merasa sangat keren ketika berada di atas panggung, mencabik si senar empat dan membangun fondasi musik bersama pemain drum, sambil sesekali berinteraksi dengan erangan gitar dan memberikan latar bagi sang vokalis. Tapi sesungguhnya sumber energi yang paling besar, menurut saya, sebenarnya berasal dari penonton. Berasal dari orang-orang yang hadir di venue untuk menonton performer di panggung.

Beberapa kali saya merasakan bagaimana penonton menyelamatkan performance band kami, dan cukup sering di awal-awal karier musik saya justru penonton lah yang menyebabkan ada perasaan yang anti klimaks ketika selesai membawakan satu lagu atau saat menyelesaikan tugas di panggung. Pekerjaan seni membuat pelakunya menjadi sensitif secara emosi, sehingga perilaku yang ditampilkan oleh penikmatnya (penonton) sangat mudah dalam memicu perubahan mood pada si pelaku seni. Ketika penonton bisa menikmati apa yang sebuah band tampilkan, entah bagaimana selalu menghasilkan performance yang jauh melebih standar. Paling tidak itu yang saya alami atau saya saksikan ketika menonton beberapa band atau musisi.

Jadi apakah sebagai musisi kita harus selalu berusaha memenuhi keinginan penonton? Jawabannya "tergantung"... Hahaha jawaban yang sangat tidak memuaskan. Tapi itulah seringkali menjadi awal perdebatan terkait list lagu yang akan dibawakan. Saya yang besar sebagai musisi indie seringkali "ngotot" agar lebih banyak membawakan lagu-lagu sendiri daripada melakukan "cover". Berbeda dengan rekan saya yang berlatar belakang musisi cafe dan long trip yang tetap merasa perlunya lagu-lagu milik artis lain yang lebih dikenal. Tapi apakah hanya dari list lagu, penonton akan tertarik? Saya ingat komentar seorang juri festival musik indie nasional sekitar 5 tahun lalu. Dia menyemangati kami untuk bebasa membawakan karya sendiri. Menurutnya dia lebih memilih berada di kamar mendengar mp3 atau CD daripada mendengar band mengcover lagu dari band lain. Akhirnya, seringkali saya mengambil jalan tengah... di antara beberapa lagu sendiri, kami sisipkan lagu dari artis lain. Ya cukup aman lah selama ini...

Intinya, kita tidak bisa meniadakan faktor penonton dalam mendukung performance kita di panggung. Jika anda lebih senang membawakan lagu sendiri, paling tidak anda harus lebih bekerja keras bagaimana agar penonton bisa "terlibat" dan tidak bengong dengan lagu anda.

Sehebat-hebatnya skill yang anda miliki atau titel sekolah musik bergengsi, tetap penonton adalah "juri" sebenarnya... paling tidak itu menurut saya :p

Rabu, 08 Mei 2013

Kemana saja dan apa yang terjadi?

Suatu ketika saya merasa terlalu sibuk sehingga blog ini menjadi terlupakan. Bad decision... Padahal dengan menulis di blog melatih saya untuk merangkai kata, menyusun kalimat, membuat sekuensi cerita yang pada akhirnya membantu pekerjaan saya. Oh ya, saya Caki, tapi sekarang sedang berusaha untuk dikenal juga sebagai Cakra, nama asli saya. Pekerjaan utama saya adalah musisi, dan sampingannya psikolog + dosen di salah satu universitas swasta di Bandung, tapi di E-KTP saya tertulisnya "mahasiswa" hahaha. Saya yang memiliki account blog ini dan saat ini masih penulis satu-satunya.


Masih ingat "Afterwork"?

Band saya yang terbentuk sejak 2009. Kami kini sudah sedikit lebih terkenal dari sebelumnya. Kami sudah launchng single di radio se-Indonesia. Isn't that cool?? Single kami "Lagu Kebebasan" sudah wara-wiri di chart beberapa radio di Yogya, Bali, Cirebon, Medan, Dumai, Makassar etc... Sementara di Bandung proses penetrasi sedang dimulai :p

Kenapa saya cerita Afterwork, karena pagi ini saya terbangun dan teringat blog saya ini yang sempat terpikir untuk saya matikan, tapi bentuk kognisi saya yang lain bilang, "hei, bagaimana kalau ini dibuat link dengan page reverb Afterwork?? Bukankah sekarang sedang musim artist yang juga menulis?" dan sisi liar saya menjawab, "gadis itu luar biasa!" Oh maaf sisi liar yang lain (yang lebih maniac) berkata, "LAKUKAN! *evil laugh*" Dan jadilah saat ini saya membuat tulisan ini.

Jadi blog ini akan jadi salah satu media untuk mengenal band saya, supaya kami bisa lebih banyak yang terpropaganda oleh kami... Mudah-mudahan anda suka, kalau tidak pun please klik berkali-kali dan sebarkan info tentang blog ini, tentang runyamnya blog ini... sehingga hit count meningkat dan mungkin ada yang tertarik memasang iklan.. (ps: sedang menabung untuk dana promo tour... silahkan yang mau jadi sponsor ;)

Okelah kalau begitu..




Cakrangadinata
Bassist Afterwork
reverbnation.com/afterworkindonesia
facebook.com/afterworkindonesia




Jumat, 09 September 2011

Keypad oh Keypad....

Saya ini termasuk yang awet ketika menggunakan handphone. Maksudnya awet bukan apik, dilindungi setiap saat, tapi awet dipake terus minimal 2 tahun sebelum berganti handphone. Biasanya handphone baru saya ganti ketika rusak, dan biasanya rusak akibat perbuatan saya sendiri. Posting kali ini akan menceritakan tentang handphone yang sekarang saya gunakan. Kalau dipikir-pikir usia pemakaiannya sudah hampir jalan 2 tahunan lah.. awet yah... Handphone ini ceritanya tergolong smartphone berbasis windows mobile dengan keypad qwerty. Nah, yang unik adalah si keypad qwerty-nya. Kejadiannya bermula ketika sekitar 1 tahun yang lalu tanpa saya niatkan keypad handphone tersebut saya guyur dengan kopi. Harga kopinya "hanya" Rp. 5000 (beli di toko lingkaran K) tapi akibatnya aje gile hehehehe.. :)

Akibat pengguyuran itu, keypad saya tidak bisa seperti dulu lagi. Selayaknya ibu yang melahirkan, umumnya ukuran badan tidak bisa kembali lagi (cat: kecuali artis yang sanggup perawatan). Begitu pula handphone saya. Sejak itu keypad memunculkan keanehan-keanehan. Misalnya, beberapa kali tiba-tiba dia mengetik sendiri, beberapa tombol sulit dipencet, kadang ketika pencet satu huruf yang muncul huruf tersebut dan teman-temannya.. handphone saya berubah dari smartphone menjadi linglungphone. Sempat saya bawa ke service center, tapi hanya dibersihkan saja dan bisa kembali digunakan, walau beberapa tombol harus ditekan lebih keras. Kata mbak2nya, sebaiknya saya ganti keypadnya. Dan sayangnya, keypadnya tidak ada di stok. Akhirnya saya gunakan saja walau terkadang jari saya sakit sendiri karena harus ekstra keras memencet-mencet keypad.

Tadi pagi, sesuatu yang unik terjadi... Itu huruf P tidak bisa ditekan. Mau saya tekan segimana pun tetap saja tidak muncul si huruf yang mengawali istilah ilmiah alat kelamin pria itu. Saya baru sadar bahwa saya cukup sering menggunakan huruf "P" ketika mengetik sms. Bukan berarti saya sering mengetikkan kata "penis" di sms tetapi memang banyak kan kata-kata yang menggunakan huruf "p" . Dan permasalahan pun terjadi. Ketika saya ingin mengetik "tapi" yang muncul adalah "tai".. dua kata yang sangat berbeda bukan.. lalu menulis kata "punteun" pun tidak bisa, apalagi membuat emoticon " :p " ... Akhirnya saya berusaha mencari padanan kata yang sesuai.. misalnya untuk "tapi" saya ganti dengan "namun" , atau "mimpi" menjadi "angan".. Kadang-kadang kalimat yang hendak saya rangkai tidak memungkinkan untuk menjadi wajar ketika saya mengganti kata-kata tersebut.
Misal: "Sor, besok pas mau latian gw jemput jam stgh 7an yah" ----> ini kalimat yang wajar, tapi kalau begini: " Sor, besok kan latian, jd gw angkut jam stgh 7an yah" ---> sedikit tidak wajar karena Sora bukan sejenis hewan ternak yang lumrah diangkut ke truk, walau kadang dia berperilaku seperti itu..

Salah satu solusi yang bisa saya gunakan sekarang-sekarang ini, sambil menunggu keypad atau hibahan handphone baru adalah memberi tahu orang-orang terdekat mengenai keunikan handphone saya. Salah satunya adalah pacar saya (karena mau tidak mau yang bersangkutan yang sering saya kirim sms :p), saya bilang untuk tidak kaget jika isi sms saya ada kata-kata "tai" , karena maksudnya "tapi" , atau "eluk", yang artinya "peluk". Intinya saya minta dia untuk menambahkan huruf "p" pada kata-kata yang tidak umum atau ajaib bentuknya.

Update terakhir kondisi handphone saya adalah tanda "enter" dan "shift" untuk membesarkan huruf tidak berfungsi. Tanda "enter" sih tidak masalah, tapi "shift"... haduh... bisa dianggap tidak sopan ketika menulis nama orang-orang yang dituakan.. Akhirnya saya hanya bisa menatapi handphone dan bergumam... "keypad oh keypad..."

Minggu, 12 Juni 2011

Mencari cara untuk mendoktrin...

Sejak akhir Sekolah Dasar saya membaptiskan diri bahwa passion saya adalah di musik. Eee... sebenarnya lebih spesifik sejak menonton "That Thing You Do" . Singkat cerita, akhirnya saya bermain bass sampai sekarang. Band saya yang sekarang namanya "The Afterwork". Dari namanya yang jika diartikan secara asal berarti "balik gawe", jadi kami harus mengimbangi berlatih sambil bekerja. Aliran kami adalah... Hei!! sebentar di sini saya tidak berniat membicarakan band, untuk info lebih lanjut tentang The Afterwork bisa membuka http://www.myspace.com/theafterwork
Pada post ini saya ingin menceritakan tentang pemahaman saya dalam hal mendoktrin agar semua orang suka musik band saya. Tapi, jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tulis, toh kami belum begitu sukses. Sampai saat ini yang sudah cukup terdoktrin adalah kakak ipar saya. Dia selalu sepakat bahwa band saya keren :p , walaupun agak mencurigakan karena ipar saya itu jarang mendengarkan musik hehehehe....

Saya percaya bahwa salah satu alternatif dinamika munculnya cinta adalah karena terbiasa. Kenapa saya bilang ini salah satu alternatif, karena tidak berlaku bagi saya. Ketika saya terlalu kenal justru makin hilang feeling untuk menyatukan hati karena sudah terlalu paham "hancur-hancurnya" si dia. Tapi tetap saja, ketika kita terbiasa akan sesuatu hal seringkali pola berpikir kita cenderung untuk menganggap bahwa kebiasaan kita itu adalah satu-satunya. Ketika kecil saya hobi sekali nonton video-video seperti Gavan, Sharivan, Google V... sehingga pada titik yang paling ekstrim saya meyakini bahwa satu-satunya cara menyelamatkan dunia adalah dengan menjadi polisi luar angkasa atau memiliki kemampuan berubah kostum segera.



See? Betapa seorang bocah lugu seperti saya bisa memiliki pola pikir yang sangat spektakuler seperti itu. Saya mencapai titik itu setelah berjam-jam setiap harinya memutar video betamax, dari tempat rental, tentang aksi kepahlawanan mereka.



Anda tahu Kangen Band? Mungkin anda salah satu dari mereka yang membenci band itu. Tapi saya sangat yakin bahwa kemungkinan besar
anda lebih hafal lirik lagu mereka dibanding lirik Bohemian Rhapsody dari Queen.


















Karena apa? Karena beberapa radio dan televisi nasional sangat rajin memutar lagu-lagu Kangen Band. Menjengkelkan? Memang, tapi begitulah adanya hehehe...

Beberapa waktu lalu saya datang ke bass clinic dari James Lomenzo. Salah satu perkataan yang saya ingat dari dia adalah sebagai musisi kita harus memperdengarkan karya kita. Katanya lagi, jika tidak ada kesempatan, ciptakanlah kesempatan itu.

Hal ini band saya coba lakukan. Menciptakan kesempatan yang seringkali dalam kesempitan. Salah satunya adalah dengan nekat bawa alat dari studio (termasuk power dan mixer yang beratnya naudzubillah) ke cafe bernama "Warung Ide" dan memainkan beberapa karya kami di depan pendukung Lazio yang sangat jelas lebih tertarik melihat pertandingan daripada sebuah band indie rock. Tapi paling tidak mereka mengenal, dan ketika kami berjodoh kembali untuk manggung di hadapan beberapa dari mereka, mereka akan makin kenal lagu kami dan mulailah terdoktrin ;)

Cara ini sebenarnya sudah diterapkan sejak awal oleh pihak militer. Jika kita datang berkunjung atau sekedar menunpang ke toilet salah satu markas mereka, kita akan menemukan banyak sekali tulisan baik dalam bentuk poster, plakat, ataupun monumen yang berisikan sikap-sikap yang wajib dimiliki anggotanya. Itulah doktrin...

Menyadari kekuatan doktrin, yang patut kita waspadai adalah jenis content yang diberikan. Akan sangat berbahaya jika content-content yang diberikan bersifat negatif atau merusak.

Okay!! Cara #2
Cara nomor dua atau cara terakhir yang terpikirkan oleh band saya adalah dengan menciptakan citra bahwa kami ini keren. Pernah dengar keripik setan Ma'Icih? atau es krim Magnum? Dua benda itu sangat happening di kota saya. Khusus untuk Ma' Icih, hingga saat ini kadar fenomenalnya tidak menurun... Saya tidak habis pikir bagaimana sebuah kripik singkong pedas bisa sangat digandrungi dan membuat orang-orang rela berebutan dan berburu ke seluruh penjuru kota untuk "menyiksa" diri dengan pedasnya. Tapi itulah contoh pencitraan yang berhasil. Penjual Ma' Icih pintar sekali memanfaatkan twitter untuk mempromosikan produk mereka. Mereka berhasil mendoktrin kita agar terkonsepkan dalam pola pikir kita bahwa Ma'Icih adalah sesuatu yang sangat trendi. Terpilihnya seorang pemimpin dalam sebuah Pemilu pun sangat dipengaruhi kemampuan tim kampanyenya untuk membangun pencitraan positif sesuai karakter pemilih. Dan tim sukses SBY memang terbukti sangat piawai melakukan ini.

Bagaimana agar terlihat keren? Bukannya saya narsis, tapi beberapa orang berpotensi suka dengan saya ketika saya diam. Ketika saya mulai berbicara dan mereka lebih tahu "dalem-dalemnya" saya... mereka pun bubar hahahahaha. Jadi saya rasa titik awal untuk terlihat keren adalah dengan menjadi "misteri". Jangan mengumbar terlalu banyak misalnya dengan menulis di status twitter seperti "kami adalah sebuah band yang memiliki visi untuk memberikan warna baru bagi blantika dunia musik Indonesia." Tapi cukup buat yang sederhana, seperti "The Afterwork, a group of working class music performers." Keep it simple dan keep it "padat" (maaf saya lupa bahasa Inggrisnya "padat" itu apa??)

Selain itu gunakan bahasa asing agar terlihat keren. Coba kita renungkan, seberapa sering kita menyanyikan lagu-lagu berlirik asing yang kita sendiri tidak tahu apa artinya. Apa kita bisa segera tahu apa sih artinya sweet disposition atau megalomaniac tanpa melihat kamus terlebih dahulu (hal ini tidak berlaku bagi anda yang jurusan sastra Inggris, lulusan lembaga bahasa, atau native speaker)? Tapi kita semangat menyanyikannya, bahkan mengutipnya dalam status facebook kita. Bukan berati kita harus membuat lagu berlirik bahasa asing, tapi cukup bubuhkan sedikit "bumbu-bumbu" bahasa asing dari setiap berita yang kita tampilkan. Misalnya lebih keren mana: (1) Hari ini latihan, semoga semua lancar; atau (2) Hari ini rehearsal, semoga semua lancar? Kalimat terakhir jauh lebih keren dibanding kalimat pertama. Padahal rehearsal teh latihan-latihan keneh. Yang perlu kita perhatikan adalah kemampuan bahasa kita, jangan sesekali menggunakan istilah bahsa asing tanpa kita tahu artinya apa. Hati-hati dengan spelling dan grammar. Gunakan http://translate.google.co.id/ untuk mengecek penulisan kita. Akan sangat terkesan "alay" jika kalimat dalam bahasa Inggris yang kita gunakan salah dalam penulisannya.

Agar makin terlihat keren, carilah teman-teman kita yang sudah terlebih dahulu terlihat keren. Jadikanlah mereka fans kita, atau paling tidak terlihat seolah-olah seperti fans kita. Hahahaha... saya menemukan arti baru dari friends with benefit. :p

Rabu, 08 Juni 2011

belum punya blackberry cak?


Hadeuh... pertanyaan itu sudah beberapa kali diajukan ke saya. Well emang belum punya. Terus bersambung ke pertanyaan berikutnya, "kenapa ga beli?" ditambah lagi pertanyaan, "cewe' lo aja dah punya, ko lo belum?"

Ya, sebenarnya jawabannya mudah, "ga ada duitnya!". Tapi selalu dijawab dengan pandangan keheranan dari mereka-mereka itu, beberapa bahkan mulai memberikan informasi tentang blackberry (BB) yang relatif "murah", atau siapa yang menjual 2nd. Oke, berarti saya harus mencari jawaban yang lebih bisa diterima khalayak, yang lebih sahih tentunya.

Mungkin saya akan mencoba menjawab bahwa saya belum butuh BB. Okelah, orang-orang tergila-gila dengan fitur BBM (Blackberry messenger), tapi apa saya butuh itu? Orang-orang yang bekerja dengan saya sebagian besar tinggal satu kota, dan saya bukan bekerja di jenis pekerjaan yang membutuhkan respon segera.. jadi buat apa juga cepat-cepat berkirim pesan. Selain itu tarif sms masih mampu saya penuhi.

Mereka pun kembali berulah eh bertanya, "tapi ini bisa browsing loh cak!?" So?? Bandung itu kota yang cukup maju, wifi spot ada di mana-mana, laptop jadul saya masih bisa untuk browsing ini itu. Selain itu, di rumah sudah ada internet, jadi intinya saya masih bisa browsing, chatting, beli barang via internet, email... download video, dsb dan jauh lebih nyaman (walau sama sekali tidak keren) browsing lewat layar yang besar dibanding layar yang kecil.

Nah, sedikit menyimpang ke topik yang lain... Seorang mahasiswa saya tertarik untuk membuat rancangan penelitian tentang mahasiswa pengguna blackberry Torch 9800. Fakta menarik yang dia temukan di lapangan adalah beberapa mahasiswa tersebut "hanya" menggunakan Torch untuk BBM, sms, dan telp saja. Saya iseng cek ke site http://www.gsmarena.com/blackberry_torch_9800-3203.php di sini saya melihat setidaknya ada
5 atau bahkan lebih (fitur java yang disediakan cukup banyak) fitur yang tidak mereka gunakan. Apakah ini perilaku konsumtif? Mungkin saja, mengingat masih banyak tipe BB yang jauh lebih murah jika mereka hanya menggunakan untuk BBM, sms, dan telp. Penelitian ini belum selesai dan hasilnya pun belum ada, tapi studi awal cukup menggelikan (dan meresahkan)bukan? Ternyata hal ini tidak hanya berlaku bagi BB tapi gadget-gadget fenomenal lainnya seperti Ipad! tidak sekali dua kali saya melihat anak-anak kecil menenteng Ipad dan "hanya" mereka gunakan untuk main "angry bird", andai saja orang tua mereka tau bahwa angry bird sudah ada versi PC dan bisa didownload.

Hahahaha.... lucu juga melihat bagaimana saya berusaha memuaskan keheranan orang ketika saya mengaku tidak punya uang untuk beli BB. Alasan-alasan ini saya kembangkan sendiri hanya untuk kalian... XOXO :p



ps: tapi bener kok, saat ini gw ga punya cukup uang untuk beli BB

Kamis, 30 Desember 2010

Timnas Indonesia: Tahun ini mungkin belum juara, tapi kita (sedang) berada di jalur yang benar

Sepakbola tidak hanya olahraga. Sepakbola adalah pemersatu. Paling tidak itu yang saya rasakan belakangan. Penampilan Timnas Indonesia di Piala AFF mampu sejenak mempersatukan rakyat Indonesia, paling tidak selama 90 menit, 2 kali seminggu, dalam bulan ini. Ah! Saya tidak boleh terlalu skeptis... 1 bulan rakyat bersatu karena sepakbola... dan mungkin akan terus berlanjut. Sangat menarik bagaimana pihak-pihak yang berbeda paham, partai, status ekonomi, suku, gender bersatu memberi dukungan bagi Timnas. Walaupun pada akhirnya kami (perhatikan bahwa saya merasa menjadi bagian dari timnas dengan kata "kami" :p ) "hanya" menjadi runner up, tapi tidak ada yang perlu disesali. Menyenangkan ketika menyaksikan infotainment pagi yang menyajikan berita mengenai timnas. Sangat jarang berita di program yang "benar-benar" berita memiliki content yang sama dengan berita hiburan. Walau pada akhirnya terjadi eksploitasi yang berlebihan seperti timnas diminta menghadiri undangan sarapan yang sarat politik pencitraan, acara semacam pengajian hingga larut malam, hingga program khusus televisi swasta, tapi tetap sepakbola memang salah satu media pemersatu yang paling efektif.

Sejak mengenal piala dunia, saya selalu bermimpi bahwa suatu hari nanti Indonesia bisa lolos kualifikasi. Saya bahkan bermimpi kita bisa juara. Juara Dunia!! Artinya untuk kurun 4 tahun tidak ada yang lebih hebat dalam bermain sepakbola selain kita. Wow, mimpi yang sangat muluk-muluk, mungkin hanya bisa disaingi oleh mimpi saya manggung di woodstock. Apa ini hanya akan berakhir di mimpi? Saya rasa tidak... Alasannya? Hmm... entah! Hehehehehe :) Tapi serius, jika kita perhatikan timnas Indonesia sudah berada di jalur yang benar untuk meraih itu semua. Karena...



Pertama, kita memiliki pelatih yang sangat profesional. Alfred Riedl adalah pelatih yang tidak peduli siapa saja yang bermain di tim selama performanya baik. Banyak pelatih asal Indonesia yang sebagus dirinya, tapi sisi profesionalitas terkadang kurang teraktualisasikan dengan baik. Banyak pelatih yang tidak berani melawan kebijakan manajemen klub atau timnas, walaupun hal tersebut merugikan tim. Berapa banyak sih pelatih yang berani memulangkan pemain "bintang" atau "kesayangan" yang tidak memenuhi syarat. Riedl salah satu yang berani. Memang pada akhirnya dirinya tidak bisa mengelak dari tekanan official yang "keblinger", tapi dirinya tetap menunjukkan kekonsistenan. Riedl sangat dingin, tidak pernah tersenyum saat timnas membantai lawan-lawannya. Mungkin ini karena cara permainan timnas belum sesuai standarnya, atau memang memiliki kesulitan untuk tersenyum... Tapi saya rasa dia datang bukan untuk menjadikan Indonesia juara secara instant tapi untuk membangun timnas kita.


Kedua, Indonesia memiliki banyak talenta yang sangat potensial. Teman saya yang sempat berdomisili di Papua bercerita bahwa di sana yang skill-nya seperti Boaz tuh banyak bahkan hingga level pertandingan antar kampung sekalipun. Tapi kenapa sedikit sekali yang bersinar? Mungkin masalahnya terletak pada kesempatan. Kesempatan idealnya bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan diciptakan. Coba kita renungkan, apakah mudah bagi seorang anak di negara kita untuk fokus dengan cita-citanya sebagai pemain sepak bola profesional. Seringnya bermain sepak bola hanya berhenti sebagai hobi. Orang tua kita, bahkan mungkin kita, lebih memilih profesi-profesi yang "jelas", "mapan" seperti dokter, insinyur, pengacara, pengusaha, dll. Profesi-profesi tersebut adalah profesi yang baik, tapi menjadi buruk ketika dipilih oleh seseorang yang sebenarnya ingin menjadi pemain sepak bola. Tapi karena lagi-lagi pemilihan profesi sebagai atlet, khususnya sepak bola, bukanlah sesuatu yang populer bagi orang tua atau calon mertua maka hilanglah berjuta-juta talenta sepakbola...
Irfan Bachdim, salah satu bintang timnas, adalah orang yang beruntung. Keluarganya berdomisili di Amsterdam. Irfan memiliki bakat (ayahnya Noval Bachdim adalah pemain sepak bola era 80-an) dan minat yang tinggi terhadap sepak bola. Keluarganya lalu memberikan kesempatan baginya untuk mengasah skill di Ajax, salah satu klub Eropa yang dikenal sebagai "akademi" bintang lapangan hijau. Hasilnya? Salah satu alasan mengapa GBK serasa mall (baca: banyak wanita dengan kostum yang terlalu "rapi" yang hadir) ketika pertandingan timnas.

Ketiga, kita memiliki kompetisi sepakbola. Liga Indonesia digelar sejak 1994. Namun, sebenarnya kompetisi sudah digelar secara amatir sejak 1979 dengan nama "Perserikatan". Jadi sebetulnya kompetisi sudah berlangsung selama 31 tahun. Seharusnya dengan usia kompetisi yang sudah "dewasa" tersebut kita bisa berbicara banyak di kompetisi internasional. Tapi nyatanya belum! Saya memperhatikan banyak talenta yang dalam pengertian tertentu menjadi "tersia-siakan" ketika masuk liga. Pola yang umum terjadi adalah seorang pemain muda harus berusaha ekstra keras agar menjadi line up dari pelatih. Sementara, pelatih diberi tekanan besar yaitu dari suporter, official, pemda (sebagian besar klub masih menggunakan dana APBD) yang selalu menginginkan kemenangan, dan tekanan dari sistem liga yang maaf.. "ajaib". Bagaimana tidak ajaib, adakalanya sistem degradasi ditiadakan, tapi lalu diberlakukan kembali. Kemudian jadwal kompetisi yang sangat mudah berubah-ubah, lalu ketika jadwal berubah, sebuah klub bisa memainkan 3 pertandingan dalam 1 minggu! Kesemua hal ini menyebabkan pelatih cenderung memilih cara aman, yaitu mendatangkan pemain asing yang dipandang lebih siap daripada pemain muda yang masih perlu dipoles kemampuannya. Alhasil banyak pemain muda yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk bermain di level profesional. Konon, beberapa pelatih asing yang pernah melatih timnas sering memprotes karena ketika pelatnas mereka harus kembali melatih para pemain teknik-teknik dasar sepak bola seperti shooting atau passing. Mereka mempertanyakan apa saja yang dilakukan klub dalam membina. Menurut saya, mungkin di klub latihan tetap dilakukan, tapi pengalaman bertanding sangat minim sehingga selain kurang aplikasi, mental pun kurang terasah. Memang kompetisi di Indonesia masih jauh jika dibandingkan Jepang, Korea, atau Eropa (jauh banget lah!) tapi perbaikan selalu dilakukan. Sesuai aturan terbaru beberapa klub mulai diharuskan mencari pendanaan secara mandiri, hal ini selain meningkatkan profesionalisme klub, juga menyebabkan klub harus mengirit dana sehingga pemain binaan sendiri lebih menguntungkan secara ekonomis.
Jadwal pun mulai dibenahi, standar lapangan juga diusahakan menyesuaikan dengan standar FIFA agar pemain kita tidak "kampungan" ketika bermain di stadion Wembley, White Hart Lane, San Siro atau Old Trafford hehehehehe...
Selain itu akan adanya kompetisi tandingan (Liga Primer) sehingga masing-masing penyelenggara berusaha untuk lebih profesional dalam penyelenggaraan.





Keempat adalah sesuatu yang sangat vital..... yaitu SUPORTER!! Entah sejak kapan, rakyat Indonesia menggilai sepakbola. Banyaknya pertandingan dari level kampung hingga nasional menunjukkan antusiasme pada sepak bola. Bentrokan antar suporter fanatik menunjukkan kecintaan, secara ironi, pada olah raga ini. Intinya sebagian besar rakyat Indonesia cinta sepakbola. Pernahkan terpikir kenapa kita sering menyusahkan diri bangun dini hari hanya untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia atau Liga Eropa? Padahal mungkin negara atau klub yang kita tonton bukanlah kampung halaman kita... Suporter adalah pemain kedua belas dari sebuah tim. Tanpa bisa menjelaskan secara ilmiah (bagaimanapun ini bukan blog sains), saya percaya ketika stadion dipenuhi oleh suporter, maka antusiasme mereka akan mengalir dalam wujud energi positif kepada setiap pemain yang mereka dukung. Tim mana yang tidak merinding melihat antusiame suporter Indonesia di Gelora Bung Karno. Suatu pertandingan tanpa suporter seperti menonton TV hitam putih, tidak berwarna dan membosankan. Walaupun terkadang ulahnya merepotkan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa suporter berperan dalam melestarikan sepakbola di negeri ini.

Ya mungkin empat hal itu dulu yang bisa saya sampaikan. Saya bukan pakar sepakbola, saya hanya penikmat dan komentator yang seenaknya berbicara. Tapi yang pasti sepakbola adalah pemersatu bangsa, walau hanya selama 90 menit (belum termasuk injury time atau perpanjangan waktu).

Selasa, 02 November 2010

Seberapa tulus niatmu

Seberapa tulus niatmu. Ya seberapa tulus niat anda dalam berbuat baik? Pernahkah kita merasa tidak nyaman ketika seseorang tidak membalas kebaikan kita?

Banyak orang yang gemar mengungkapkan bahwa giatlah berbuat baik, maka kebaikan pun akan kembali padamu. Apakah itu realita? atau hanya kutipan ayat ataupun dogma. Saya sering mendapatkan rekan-rekan saya yang mengeluh, karena merasa kebaikannya tidak pernah terbalas dengan hmm.... cara yang proporsional, mungkin. Peribahasa air susu dibalas dengan air tuba mungkin tepat, walaupun seumur-umur saya belum pernah paham air tuba itu yang seperti apa? apakah berwarna? rasanya pahit? asam? atau mungkin saya terlalu sombong untuk sekedar membuka kamus besar Bahasa Indonesia. Lalu saya bertanya kepada rekan saya tersebut, "memang dia sudah menjanjikan sesuatu jika kamu berbuat baik?". Teman saya menjawab, "tidak".

Lalu apa masalahnya? Siapa yg bisa dipersalahkan ketika sebuah kebaikan tidak dibalas dengan kebaikan? Apakah yang diberi kebaikan? Bisa ya, bisa juga tidak, mengingat dia tidak pernah meminta tuh (mungkin) untukk diperlakukan baik. Lalu apakah yang memberi kebaikan? Hmm.. tidaklah, tapi di sisi lain mungkin menjadi salah ketika sang pemberi "terlalu" berpegang pada mazhab (alah... istilah sok2 pinter!) bahwa "kebaikan akan dibalas dengan kebaikan".

Hmmm, mungkin sebaiknya sebelum anda berbuat baik, biasakanlah untuk tidak mengharap kebaikan anda akan dibalas. Dan itu mungkin baru bisa "dianggap" tulus.